14/07/2026
Perkebunan Sosial Budaya

Paniai Dipilih Sebagai Titik Awal Gerakan Penghijauan Papua Tengah 2045

Paniai – Kabupaten Paniai resmi ditetapkan sebagai wilayah percontohan dalam pelaksanaan Program Go Green Papua Tengah 2045, sebuah gerakan penghijauan jangka panjang yang menargetkan penanaman 30 juta pohon di delapan kabupaten se-Provinsi Papua Tengah selama 20 tahun mendatang.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Paniai, Yayasan Teknologi Hijau Papua, dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Komitmen bersama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang berlangsung di Jayapura, Senin (13/7/2026).

Ketua Yayasan Teknologi Hijau Papua, Otopianus P. Tebai, menjelaskan bahwa Kabupaten Paniai dipilih sebagai lokasi awal karena dinilai memiliki komitmen yang kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan serta memiliki kondisi ekosistem yang representatif untuk menjadi model implementasi program.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh dari pelaksanaan di Paniai diharapkan dapat menjadi acuan bagi penerapan program serupa di tujuh kabupaten lainnya di Papua Tengah.

Melalui gerakan bertajuk “Lindungi Papua, Paru-Paru Dunia”, program ini difokuskan pada rehabilitasi lahan kritis, perlindungan kawasan hutan adat, serta pengembangan ekonomi hijau yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Untuk memastikan pelaksanaan berjalan sesuai kaidah ilmiah, Fakultas Kehutanan UGM akan mendampingi seluruh tahapan program. Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, memimpin penyusunan peta jalan penelitian, identifikasi kawasan prioritas, pemilihan jenis tanaman endemik, hingga sistem pemantauan dan evaluasi pertumbuhan pohon secara berkala.

Bupati Paniai, Yampit Nawipa, menyatakan kesiapan pemerintah daerah dalam mendukung penuh pelaksanaan program tersebut. Ia menilai langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus mengantisipasi dampak deforestasi, pembalakan liar, dan aktivitas pertambangan ilegal yang berpotensi mengancam kelestarian hutan serta sumber daya air masyarakat.

Selain memberikan manfaat ekologis, program ini juga sejalan dengan kebijakan nasional melalui target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021, serta mendukung upaya pencapaian Net Zero Emission Indonesia 2060.

Otopianus menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga oleh komitmen seluruh pihak dalam merawatnya secara berkelanjutan. Ia menekankan bahwa keterlibatan masyarakat adat menjadi faktor utama agar gerakan penghijauan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan generasi Papua di masa mendatang.

Related posts

Gubernur Resmikan Pembangunan Sekretariat Ikaswara Kota Sorong

Jubir News

Gubernur Jateng: Langkah Maju Polda Jateng Cipatakan Program Anak Asuh Pelajar OAP

Jubir News

Presiden Jokowi Akan Terus Membangun Papua Sepenuh Hati

Jubir News