Jayapura — Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, mencanangkan peran baru Papua sebagai titik strategis Indonesia menuju kawasan Pasifik, menyusul meningkatnya peluang kerja sama regional dan potensi ekonomi lintas negara di wilayah timur Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Fakhiri dalam pertemuan bersama perwakilan diplomatik dan sejumlah pemangku kepentingan.
Jumat 12 Desember, Fakhiri menegaskan bahwa letak geografis Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini dan berada dalam jalur konektivitas Pasifik memberikan nilai strategis yang harus dioptimalkan. Menurutnya, posisi ini menjadikan Papua bukan hanya wilayah perbatasan, tetapi juga pintu depan yang dapat memperkuat kehadiran Indonesia di negara-negara Pasifik.
“Kami ingin Papua tampil sebagai representasi Indonesia di Pasifik, dengan membawa citra positif dan membuka lebih banyak peluang kerja sama,” ujar Fakhiri.
Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah Provinsi Papua tengah menyiapkan langkah konkret melalui penguatan diplomasi ekonomi, kerja sama perdagangan, pendidikan, kesehatan, serta pengembangan investasi. Keterlibatan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon menjadi bagian penting dalam memperluas jejaring kolaborasi.
Fakhiri menyebut bahwa pengembangan konektivitas antarwilayah, termasuk pemanfaatan pelabuhan dan bandara yang terhubung dengan negara tetangga, akan menjadi fondasi utama dalam memperkuat hubungan Indonesia–Pasifik melalui Papua. Pemerintah juga berfokus pada stabilitas keamanan dan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sebagai penunjang keberhasilan program ini.
Ia berharap inisiatif tersebut dapat memperkenalkan Papua sebagai wilayah yang aman, maju, dan terbuka bagi investor serta mitra internasional di kawasan Pasifik.
“Dengan dukungan semua pihak, Papua siap menjadi titik strategis yang menghubungkan Indonesia dan negara-negara Pasifik,” tegas Fakhiri.
