31/08/2025
Momen pariwisata Pemerintahan

Menjaga Kewarisan Pegunungan Cycloop: Langkah Konservasi untuk Flora dan Fauna Papua

Jayapura (ANTARA) – Pegunungan Cycloop bukan sekadar keindahan alam, melainkan juga menjadi jantung kehidupan masyarakat sekitar. Secara geografis, kawasan ini meliputi Kota dan Kabupaten Jayapura dan membentang dari Kampung Maribu, Distrik Sentani Barat hingga Pasir Enam, Distrik Jayapura Utara, mencakup panjang 78 kilometer.

Dengan luas area mencapai 31.479,89 hektare, Pegunungan Cycloop memiliki beberapa nama, antara lain Pegunungan Dobonsolo, Pegunungan Dafonsoro, dan Pegunungan Robhong Holo. Puncak tertinggi, Gunung Dobonsolo, menyentuh ketinggian 1.970 mdpl, sedangkan Gunung Dafonsoro mencapai 1.580 mdpl.

Sebagai cagar alam, kawasan ini memainkan peran krusial dalam melestarikan keragaman hayati Papua, yang mencakup berbagai spesies flora dan fauna endemik. Beberapa jenis anggrek yang ditemukan di sini, meliputi anggrek hitam, anggrek besi, dan anggrek jamrud dengan warna yang beragam. Sementara itu, fauna endemik, seperti burung cenderawasih, burung kasuari, dan kanguru pohon, menjadikan kawasan ini semakin kaya akan keanekaragaman hayati.

Untuk memastikan kelestarian Pegunungan Cycloop, komitmen dan kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Aristoteles Ap, mengungkapkan pentingnya peran seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat adat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan akademisi dalam upaya konservasi ini.

“Keberhasilan pelestarian Pegunungan Cycloop sangat bergantung pada kerja sama yang kuat di antara semua pihak,” jelas Aristoteles.

Pemberdayaan Masyarakat sebagai Kunci Konservasi

Pemerintah setempat menyadari bahwa memberdayakan masyarakat adalah kunci efektif dalam menjaga kelestarian hutan. Hingga akhir 2024, telah terbentuk 45 kelompok tani yang menghasilkan berbagai produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti stik sagu, minyak kelapa murni, dan kerajinan lokal lainnya.

Lebih jauh lagi, pemerintah berencana mengembangkan potensi ekowisata, dengan menyediakan jalur trekking di beberapa lokasi keindahan alam yang ada di sekitar kawasan konservasi. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua juga berupaya menerapkan program pemberdayaan masyarakat dengan mendirikan kelompok-kelompok yang fokus pada konservasi.

“Kami menempatkan pendamping di setiap kelompok agar masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mendapatkan pelatihan dan dukungan berkelanjutan,” tambah Taufik Mubarak, Ketua Pokja Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBKSDA Papua.

Anggaran sebesar Rp1,26 miliar untuk kegiatan fungsional di kawasan konservasi yang melibatkan 50 kelompok direncanakan pada 2024, termasuk kelompok usaha berbasis wisata hingga pertanian.

Tantangan dan Perlunya Penegakan Hukum

Meskipun demikian, tantangan masih mengintai pelestarian Pegunungan Cycloop. Masih terdapat perambahan lahan yang merusak ekosistem kawasan. Peneliti dari Universitas Ottow Geissler Papua, Frank L. Apituley, mencatat adanya pencemaran kualitas air yang mengindikasikan kerusakan terus menerus akibat aktivitas manusia.

“Peraturan sudah ada, namun penegakan hukum harus lebih ketat. Jika pelanggaran tidak ditindak tegas, masyarakat akan merasa bebas melakukan perusakan,” tegasnya.

Daniel Toto, Koordinator Perkumpulan Dewan Adat Suku Wilayah Tabi, juga mendukung perlunya tindakan tegas terhadap pelanggar. Dia menyoroti dampak kerusakan Cycloop yang dapat menyebabkan bencana alam, mengingat insiden banjir bandang yang terjadi pada 2019 yang merenggut banyak nyawa dan merusak infrastruktur.

“Masyarakat adat siap membantu dalam menjaga kelestarian Cycloop, namun sanksi yang tegas perlu diterapkan untuk menghindari perulangan bencana serupa,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, kelestarian Pegunungan Cycloop bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Sebagai sumber mata air dan kawasan konservasi yang penting, menjaga Pegunungan Cycloop adalah upaya untuk melestarikan flora dan fauna unik Papua serta melindungi kehidupan masyarakat setempat yang bergantung padanya.

Related posts

Aspirasi CPNS Dogiyai sudah di tangan MenPAN-RB

Jubir News

Sholat Idul Adha, MUI Papua Imbau Umat Muslim Tetap Terapkan Protokoler Kesehatan

Jubir News

Kunker Ke Papua: Kapolri Apresiasi Penegakan Hukum Terhadap KKB Kodap III Kali Kopi

Jubir News