Mari kita renungkan bersama dinamika dan drama yang terjadi dalam Pilkada Papua. Saya mengajak seluruh pembaca untuk melihat lebih dalam, bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah, tetapi bagaimana masyarakat terlibat dan terdampak oleh proses politik ini.
Dalam setiap pesta demokrasi, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, sistem pemerintahan akan tetap berjalan, siapapun yang nantinya memimpin Papua ke depan.
Antara Emosi dan Ambisi
Kita melihat banyak orang membela pasangan calon mereka dengan sepenuh hati—kadang dengan cara yang baik, kadang dengan cara yang buruk. Hubungan emosional yang kuat antara pendukung dan calon tidak akan pernah sebanding dengan kekuatan jabatan. Pepatah lama mengingatkan kita bahwa manusia bisa menjadi buta oleh harta, tahta, dan mahkota. Ini bukan hanya terjadi pada segelintir orang, tapi bisa menimpa siapa saja.
Ambisi terhadap kekuasaan dan kedudukan bukanlah hal baru. Pepatah populer di Indonesia menyebutkan: “Hati-hati! Harta, tahta, dan wanita.” Ini adalah peringatan agar kita tidak terjebak dalam godaan duniawi. Sayangnya, di Papua, agama pun telah dibawa ke dalam politik, memicu konflik yang ironisnya mempertemukan saudara sebagai lawan.
Politik dan Kesadaran Sosial
Kita tetap manusia biasa, dan perubahan tidak akan terjadi tanpa usaha dari dalam diri. Berapa banyak waktu yang telah terbuang demi ambisi politik? Ambisi itu sah, namun jangan sampai kita hanya memikirkan diri sendiri dan melupakan dampaknya bagi orang lain.
Politik bukanlah akhir dari segalanya. Namun, akhir dari politik sering kali memakan korban. Jangan sampai kita menjadi korban yang dimanfaatkan oleh kepentingan politik. Percaya pada pilihan itu baik, tapi ambisi harus tetap dalam batas kewajaran dan disertai tanggung jawab moral.
Jika kita berpikir jernih, semua calon gubernur Papua punya kontribusi dalam pembangunan, bahkan sebelum mereka mencalonkan diri. Tapi, sadar atau tidak, masyarakat kini sedang menjadi korban politik.
Waktu, Uang, dan Kesempatan yang Hilang
Tak sedikit masyarakat yang membuang waktu berharga demi mendukung pasangan calon, padahal waktu itu bisa digunakan untuk mencari nafkah dan menyambung hidup. Ini adalah kerugian nyata yang jarang disadari.
Mari kita berpikir dewasa dan menyikapi Pilkada dengan bijak. Biarkan proses berjalan sesuai koridornya, tanpa gesekan yang merusak. Papua harus menunjukkan kepada Indonesia, bahkan dunia, bahwa keberagaman dan politik yang sehat bisa tumbuh di tanah ini.
Papua Bisa, Papua Dewasa
Saling klaim antar pasangan calon adalah hal biasa dalam politik. Tapi masyarakat harus lebih cerdas dalam menyikapinya. Tunjukkan bahwa Papua bisa, Papua dewasa, dan Papua menjunjung tinggi toleransi.
Salam satu bingkai NKRI.
Kami sadar.