Jayapura,– Satgas Operasi Damai Cartenz menutup tahun 2025 dengan catatan yang kontras. Di satu sisi, operasi ini mencatat keberhasilan signifikan dalam melumpuhkan sejumlah pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Namun di sisi lain, angka korban jiwa akibat aksi kekerasan justru meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, dengan mayoritas korban berasal dari kalangan sipil.
Fakta tersebut terungkap dalam laporan akhir tahun Satgas Operasi Damai Cartenz yang dirilis di Jayapura, Senin (22/12/2025). Laporan itu menunjukkan adanya kesenjangan antara capaian penegakan hukum dan eskalasi brutalitas serangan KKB sepanjang tahun 2025.
Capaian Strategis Operasi Damai Cartenz 2025
Tahun 2025 disebut sebagai tahun “pukulan telak” terhadap struktur komando KKB.
Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol. Faizal Ramadhani, memaparkan sejumlah keberhasilan strategis yang dinilai melampaui capaian operasi pada tahun 2024.
“Tahun ini kami memfokuskan operasi pada high-value targets. Keberhasilan terbesar Operasi Damai Cartenz 2025 adalah pelumpuhan Komandan Batalyon ‘Semut Merah’ di Kabupaten Yahukimo pada November lalu, serta penggagalan penyelundupan senjata api dalam skala besar di Puncak Jaya pada Maret 2025,” tegas Brigjen Pol. Faizal.
Ia menjelaskan, keberhasilan tersebut mampu memutus sebagian rantai pasokan logistik KKB di wilayah pegunungan tengah Papua. Capaian ini dinilai lebih progresif dibandingkan strategi containment atau pembatasan wilayah yang lebih dominan diterapkan pada tahun 2024.
Perbandingan Data 2024 dan 2025
Meski sejumlah tokoh kunci KKB berhasil dilumpuhkan, data statistik menunjukkan adanya perubahan pola dan taktik serangan yang dilakukan kelompok tersebut. KKB disebut bertindak lebih nekat dan brutal sepanjang tahun 2025.
Tahun 2024
Berdasarkan data Mabes Polri, tercatat 217 aksi gangguan keamanan dengan total korban jiwa—baik dari unsur sipil maupun aparat—sebanyak 73 orang.
Pola serangan cenderung menyebar dengan karakter hit and run.
Tahun 2025
Hingga pertengahan Desember 2025, jumlah insiden tercatat menurun secara kuantitas menjadi 198 kasus.
Namun, tingkat letalitas meningkat signifikan, dengan jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 108 orang, di mana mayoritas merupakan warga sipil.
“Jika pada 2024 sasaran utama mereka adalah fasilitas umum, maka pada 2025 serangan langsung diarahkan pada nyawa manusia. Berkurangnya personel KKB justru membuat sisa kelompok ini bertindak lebih ekstrem untuk menunjukkan eksistensi,” ungkap Brigjen Pol. Faizal.
Evaluasi dan Strategi 2026
Melihat tren tersebut, Satgas Operasi Damai Cartenz melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola operasi. Jika sebelumnya fokus utama adalah memburu pimpinan KKB di wilayah hutan dan pegunungan, maka strategi ke depan akan diperluas.
Pada tahun 2026, pendekatan operasi diprediksi akan menyasar pemutusan sel-sel tidur di perkampungan yang diduga berperan sebagai jaringan mata-mata dan penyokong logistik kelompok bersenjata.
“Angka korban sepanjang 2025 adalah alarm bagi kita semua. Di 2024 kita berhasil menekan wilayah operasi mereka, namun di 2025 mereka membalas dengan teror terhadap warga sipil. Inilah yang akan menjadi fokus utama pengamanan dan penindakan di 2026,” pungkasnya.
