Sarmi, Papua — Senyum hangat dan sapaan ramah mewarnai Kampung Ansudu, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Senin (4/8/2025). Dua personel wanita Satgas Operation Peace Cartenz 2025 hadir, bukan untuk patroli bersenjata, melainkan membawa harapan melalui layanan kesehatan dan sentuhan kemanusiaan.
Mereka adalah First Police Inspector (IPDA) dr. Chintya Widodo dan Police Brigadier First Class (BRIPKA) Ita Sombo Allo. Kehadiran keduanya disambut antusias warga, terutama anak-anak yang berlarian gembira menyambut para “Srikandi” Polri ini.
Di balai kampung, dr. Chintya memeriksa kesehatan para lansia, memberi arahan medis, dan memastikan setiap warga yang datang merasa diperhatikan. Sementara itu, BRIPKA Ita memilih duduk lesehan bersama anak-anak, membagikan bingkisan, bercerita, dan mengajak mereka bermain sambil menanamkan pesan sederhana bahwa polisi adalah sahabat, bukan sosok yang menakutkan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari misi humanis Operation Peace Cartenz 2025, yang tak hanya berfokus pada penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat.
Head of Peace Operation Cartenz 2025, Brigadier General of Police Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., didampingi Deputy Head of Operation, Chief Commissioner of Police Adarma Sinaga, S.Sos., S.I.K., M.Hum., memberikan apresiasi khusus. “Mereka bukan hanya aparat penegak hukum, tetapi juga penggerak kemanusiaan di Papua. Inilah wajah lain dari Operation Peace Cartenz—wajah yang mengedepankan empati,” ungkapnya.
Head of Public Relation, Chief Commissioner of Police Yusuf Sutejo, S.I.K., M.T., menegaskan pentingnya peran polwan dalam misi ini. “Kehadiran mereka membangun jembatan kepercayaan antara Polri dan masyarakat, khususnya anak-anak dan kaum perempuan. Pendekatan seperti ini adalah kunci untuk menciptakan Papua yang aman dan damai,” ujarnya.
Hingga sore hari, IPDA dr. Chintya dan BRIPKA Ita masih melayani warga tanpa lelah. Senyum mereka menjadi penegas bahwa pengabdian tak selalu berarti berada di garis depan konflik—kadang, pengabdian terbaik hadir melalui tangan yang menolong dan hati yang mendengar.