Keerom, Papua — Dalam diamnya Kampung Baburia, Kabupaten Keerom, Papua, ada satu sosok yang tak kenal lelah menyalakan cahaya harapan bagi masa depan anak-anak dan warga. Ia adalah Bripka Batias Yikwa, anggota Polres Keerom yang mengabdikan diri tak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelayan masyarakat dan penggerak perubahan.
Bertugas sebagai Banit 3 Satreskrim sekaligus Bhabinkamtibmas di wilayahnya, Bripka Batias tidak sekadar menjalankan tugas administratif atau patroli rutin. Ia hadir sebagai sosok yang membawa energi dan mimpi besar untuk membangkitkan kualitas hidup masyarakat Papua, khususnya di kampung tempat ia dibesarkan.
“Saya memang bercita-cita jadi polisi sejak kecil,” ungkapnya.
“Kedua orang tua kandung saya sudah meninggal saat saya masih kelas 6 SD. Saya kemudian diasuh oleh orang tua angkat, AKP Andi Amrin, yang bertugas di Polda Maluku. Dari beliau saya belajar arti melayani masyarakat dengan hati.”
Semangat itu tertanam kuat dalam diri Batias. Ia memahami bahwa menjadi polisi di Papua bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi juga menyentuh hati dan memperjuangkan hak dasar masyarakat, termasuk pendidikan.
Salah satu upaya luar biasa yang dilakukan oleh Bripka Batias adalah mendirikan perpustakaan kampung di Baburia. Ia percaya bahwa dengan membuka akses terhadap buku dan literasi, anak-anak Papua bisa memiliki masa depan yang lebih cerah.
Namun perjuangan itu tidak mudah. Pada November tahun lalu, perpustakaan sederhana yang ia bangun dengan penuh harapan dan semangat terbakar habis. Kejadian itu sempat mematahkan semangat warga, terutama anak-anak yang mulai menyukai kegiatan membaca.
Alih-alih menyerah, Bripka Batias justru bangkit dengan semangat yang lebih kuat.
“Saya percaya, anak-anak Papua harus punya tempat untuk bermimpi. Perpustakaan boleh terbakar, tapi semangat kami tidak. Kami akan bangun lagi, lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya penuh tekad.
Selain membangun literasi, Bripka Batias juga aktif memberikan edukasi kepada warga tentang pentingnya kesehatan, keamanan lingkungan, dan pengembangan ekonomi mikro. Ia sering mengunjungi rumah-rumah warga, memberikan motivasi kepada anak-anak sekolah, hingga membantu masyarakat mengurus administrasi kependudukan dan kebutuhan sosial lainnya.
Di mata warga Kampung Baburia, Batias bukan hanya seorang polisi. Ia adalah anak, sahabat, guru, sekaligus pelindung. Sosok yang tak hanya hadir saat ada masalah, tetapi selalu ada untuk mendengar dan membantu.
Kisah hidup Bripka Batias Yikwa menjadi inspirasi tentang ketangguhan, keikhlasan, dan pelayanan tanpa batas. Ia membuktikan bahwa pengabdian sejati lahir bukan dari tempat yang nyaman, tetapi dari tekad untuk membuat orang lain merasa lebih berdaya dan dihargai.
Di tengah banyak tantangan dan keterbatasan, Bripka Batias terus berjalan, membawa lentera ilmu dan harapan bagi anak-anak Papua. Ia tidak menunggu perubahan dari luar. Ia membawa perubahan itu sendiri, dengan langkah-langkah sederhana namun bermakna.