31/08/2025
Uncategorized

“Pejuang Palsu, Bendera Palsu, Luka Nyata di Tanah Kami”

Goresan Pena Anak Kampung

Di kampung kami, kami tidak lagi mengenal rasa aman. Suara tangis menggantikan tawa anak-anak, dan doa-doa di gereja kini dibisikkan dengan takut-takut. Semua ini bukan karena bencana alam, tapi karena sekelompok orang bersenjata yang menyebut diri mereka pejuang kemerdekaan, padahal sejatinya mereka adalah pencuri harapan.

Baru-baru ini, video mereka beredar luas—mereka menyebut diri Kodap Sinak dari TPNPB-OPM. Di balik kegelapan malam, mereka merekam ancaman kepada siapa saja yang ikut membangun Papua: tukang bangunan, tukang ojek, pedagang, bahkan guru dan perawat.

Mereka bilang itu bentuk perjuangan. Tapi siapa yang mereka lawan sebenarnya?
Mereka menembak tukang ojek yang mengantar anak sekolah.
Mereka membakar gereja tempat kami berdoa.
Mereka mengusir perawat yang merawat ibu kami yang sekarat.
Mereka menodong hasil kebun, memperkosa anak gadis kami, dan meninggalkan trauma yang tak bisa disembuhkan.

Lucunya, mereka mengibarkan bendera yang katanya lambang perjuangan. Tapi siapa yang tahu bahwa bendera itu lahir dari tipu muslihat kolonial Belanda? Dulu, Belanda ingin mempertahankan Papua demi kepentingan mereka, maka mereka ciptakan simbol palsu itu untuk memecah bangsa ini dari dalam.

Dan kini, karena buta sejarah, anak-anak muda yang terpengaruh propaganda KKB bangga memakai simbol itu. Mereka kira itu tanda kebebasan, padahal itu adalah rantai baru buatan asing, rantai yang kini justru membelenggu mereka sendiri.

Yang mereka sebut “kemerdekaan”, hanyalah topeng untuk kejahatan. Dan rakyat kecil seperti kami yang jadi korban. Mereka bukan pejuang. Mereka adalah penculik masa depan anak Papua.

Jika mereka benar-benar cinta Papua, mengapa mereka membakar sekolah yang dibangun oleh pemerintah?

Jika mereka cinta Tuhan, mengapa mereka menyerang rumah ibadah?

Jika mereka peduli orang asli Papua, mengapa mereka menganiaya masyarakat sendiri?

Mereka tidak sedang memperjuangkan tanah ini. Mereka sedang menghancurkannya.

Dan hari ini, kami—anak-anak kampung—memilih untuk tidak diam. Kami tidak akan lagi tertipu oleh simbol palsu dan propaganda kekerasan. Kami ingin Papua damai. Kami ingin membangun, bukan membakar. Kami ingin hidup, bukan hidup dalam ketakutan.

Karena tanah ini bukan milik para pembunuh. Ini tanah kami, dan kami akan menjaganya.

Related posts

Member of Indonesian House of Representatives Urges Government to Prioritize Welfare of Police Officers in Papua

Jubir News

Manggrov Untuk Kehidupan. Inilah Sosok Pembudidaya Mangrov Binaan Binmas Perairan Ditpolairud Polda Sulbar

Jubir News

Serukan Persatuan, Tokoh Agama Papua Dukung Langkah Tegas Satgas Damai Cartenz

Jubir News