18/05/2026
Uncategorized

KKB Kembali Serang Warga dan Bakar Honai, Masyarakat Trauma Akibat Aksi Brutal KKB

Puncak — Kepedihan menyelimuti Kampung Lambera, Distrik Yugumoak, Kabupaten Puncak, setelah serangan brutal yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Kalenak Murib, Rabu (18/6/2025). Tiga warga sipil tak berdosa tewas, empat lainnya luka-luka, dan 11 honai rumah adat masyarakat Papua hangus dibakar.

Bagi keluarga korban dan masyarakat yang selamat, tragedi ini meninggalkan luka mendalam, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara psikologis. Banyak dari mereka kini terpaksa mengungsi ke Distrik Megeabume dan Sinak untuk menyelamatkan diri, meninggalkan rumah dan kebun yang selama ini menjadi sumber penghidupan.

“Kami tidak tahu harus bagaimana. Semua hancur. Rumah terbakar, keluarga kami dibunuh. Kami hanya bisa menangis,” ucap Eman Tabuni, salah satu warga yang selamat, sambil menatap kosong puing-puing honai yang tinggal arang.

Aksi kekerasan bermula dari motif pribadi pimpinan KKB Kalenak Murib yang murka karena persoalan rumah tangga, namun kemarahan tersebut dilampiaskan dengan cara biadab terhadap warga tak bersalah. Sebanyak 23 orang bersenjata api laras panjang menyerbu kampung secara membabi buta.

Korban jiwa dalam insiden ini mencakup:

  • Minanggen Wijangge, warga yang disebut terlibat dalam konflik internal pimpinan KKB
  • Patiago Tabuni dan Oriup Murib, warga sipil yang tidak memiliki kaitan langsung dengan perselisihan tersebut

Adapun korban luka di antaranya mengalami luka tembak dan trauma serius:

  • Amos Tabuni (luka tembak di lengan kanan)
  • Anis Tabuni (luka tembak di lengan kiri)
  • Amote Tabuni (luka di bagian kepala)
  • Perdus Tabuni (rekoset peluru di kaki)

“Kami hanya petani biasa. Kami tidak tahu soal politik atau konflik. Yang kami inginkan hanya hidup damai dan berkebun,” ujar Nyonya Murib, seorang ibu yang mengungsi bersama anak-anaknya.

Sementara itu, aparat gabungan dari Polsek Sinak dan Satgas Operasi Damai Cartenz telah turun langsung ke lokasi kejadian untuk membantu evakuasi korban dan memastikan keamanan warga. Kapala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, dengan tegas menyebut insiden ini sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Aksi biadab ini tidak bisa ditoleransi. Kami akan memburu pelaku dan memastikan mereka bertanggung jawab di hadapan hukum,” tegasnya.

Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo, juga mengimbau warga untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganan sepenuhnya kepada aparat.

Namun bagi masyarakat yang kini hidup dalam ketakutan dan kehilangan segalanya, pemulihan tidak akan mudah. Anak-anak yang menyaksikan langsung aksi kekerasan mengalami trauma mendalam, dan para orang tua kini harus memulai segalanya dari awal, di tempat baru, tanpa kepastian kapan bisa kembali ke kampung halaman.

“Yang kami minta hanya satu: keamanan. Kami ingin hidup seperti orang lain—tenang, bekerja, menyekolahkan anak-anak, dan tidak lagi hidup dalam bayang-bayang peluru,” ungkap Eman Tabuni, penuh harap.

Tragedi Lambera menjadi pengingat bahwa di balik setiap konflik bersenjata, ada wajah-wajah manusia biasa yang menjadi korban. Warga Papua kini menunggu dengan harapan agar keadilan ditegakkan dan keamanan dipulihkan secara nyata dan berkelanjutan.

Related posts

Kapolda Papua Tengah: Satgas Damai Cartenz Intensifkan Operasi, Kelompok Aibon Kogoya Jadi Target Penegakan Hukum

Jubir News

Kehangatan di Tengah Tugas, Satgas Damai Cartenz Eratkan Hubungan dengan Warga Paniai

Jubir News

Papua’s SMEs Shine at KKI 2025, Driving a Resilient and Globally Competitive Economy

Jubir News